Friday, February 27, 2009
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
Hujan Bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Dalam Doaku
“Hujan Bulan Juni”)
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu
Monday, February 16, 2009
Doa Hari Rabu

Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Segala puji bagi Allah, Yang menjadikan malam sebagai pakaian dan tidur sebagai peristirahatan dan siang sebagai saat bertebaran
Segala puji bagi-Mu, Kau bangkitkan aku dari tidurku,
Kalau Kau kehendaki, Kau jadikan tidurku tidur abadi, tanpa henti
Milik Allah, makhluk tak terhitung
Ya Allah, bagi-Mu segala puji
Kau ciptakan, Kau takdirkan, Kau tentukan, Kau matikan, Kau hidupkan, Kau sakitkan, Kau sembuhkan, Kau selamatkan, Kau hancurkan
Di atas singgasana-Mu Kau bertahta
Di atas kerajaan-Mu Kau berkuasa
Kusampaikan pada-Mu doa orang yang lemah tenaganya, yang putus kekuatannya, yang dekat ajalnya, yang mendunia hasratnya, yang berat keperluannya akan rakhmatMu,yang besar deritaNya karena dosa-dosanya, yang banyak jatuhnya dan gelincirnya, yang terpusat padaMu saja taubatnya.
Sampaikan shalawat kepada Muhammad penutup para nabi serta ahli baytnya yang baik dan suci
Curahkanlah padaku syafaat Muhammad saw
Janganlah Kau jauhkan aku dari persahabatan dengannya
Sungguh, Engkaulah Yang Terkasih dari segala yang mengasihi
Ya Allah, tetapkanlah bagiku empat hal pada hari Rabu:
Jadikanlah kekuatanku untuk taat kepada-Mu,
kerajinanku untuk beribadah kepadaMu,
kedambaanku untuk memperoleh ganjaranMu,
dan keenggananku terhadap apa saja yang mengundang kepedihan siksa-Mu
Sungguh, Engkaulah pemberi karunia kepada orang yang Kau kehendaki
Sunday, February 15, 2009
Doa Hari Selasa
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
Segala puji bagi Allah, pujian hak-Nya, milik-Nya pujian yang banyak
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan diriku, sungguh nafsu menyuruh pada keburukan kecuali yang disayangi Tuhanku
Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setan yang menambah dosa-dosaku
Aku berlindung pada Allah dari semua tiran yang durhaka, dari semua musuh yang dominan, dari semua penguasa yang kejam.
Ya Allah
Jadikan aku diantara pasukan-Mu, karena pasukanMu saja yang beroleh kemenangan.
Jadikan aku diantara partaiMu, karena partaiMu saja yang memperoleh kemenangan
Jadikan aku diantara kekasih-kekasihMu, karena kekasihMu saja yang tidak mendapat kecemasan dan kesedihan
Ya Allah
Baikkan agamaku, karena itulah sandaran urusanku
Baikkan akhiratku, karena itulah kampung kembaliku, tempat lari menjauhi kejahatanku
Jadikanlah kehidupan tempat menambah kebaikan,
Jadikanlah kematian tempat istirahat dari kejelekan
Ya Allah
Sampaikan shalawat kepada Muhammad penutup dan penyempurna para utusan,
kepada keluarganya yang baik dan suci, kepada para sahabatnya yang terpilih
Berilah aku pada hari Selasa, tiga hal:
Jangan biarkan pada diriku dosa kecuali Engkau maafkan
Jangan biarkan pada diriku kesusahan kecuali Engkau hilangkan
Jangan biarkan pada diriku musuh kecuali Engkau tolakkan
Dengan asma Allah, sebaik-baik asma
Dengan asma Allah, Tuhan Pengurus Langit dan Bumi
Aku mohon ditolakkan setiap kebencian yang pangkalnya murkaNya
Aku mohon diberikan setiap kecintaan yang pangkalnya ridhoNya
Akhirilah hidupku dengan ampunan
Wahai Pemilik segala kebaikan
Saturday, February 14, 2009
Doa hari Senin
Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad & keluarga Muhammad
Puji bagi Allah, yang mencipta langit dan bumi tanpa seorang saksi, yang menggelar makhluk tanpa seorang pembantu
Tiada sekutu dalam keilahian, tidak ada setara dalam ketunggalan
Kelu lidah mengungkap sifatNya
Lemah akal memerikan makrifatNya
Merendah segala penguasa karena kehebatanNya
Rebah segala wajah karena takut padaNya
Jatuh segala yang agung karena keagunganNya
BagiMu segala puja
Puja yang beruntun tak putus-putus
Salam sejahtera bagi RasulNya
senantiasa salam nan kekal abadi
Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini kebaikan, pertengahannya kejayaan,
dan pamungkasnya keuntungan
Aku berlindung padaMu
Dari hari yang permulaannya ketakutan,
pertengahannya kecemasan,
dan pamungkasnya kesedihan
Ya Allah, aku mohonkan ampun padaMu
Atas segala nazar yang kunazarkan, atas segala janji yang kujanjikan, atas segala akad yang kuakadkan,
Kemudian tak kupenuhi padaMu
Aku bermohon padaMu
Perihal ulahku menzalimi hambaMu
Bila ada hambaMu –pria dan wanita-
yang teraniaya karena kezalimanku
pada dirinya,
pada kehormatannya,
pada hartanya,
pada ahlinya,
pada keturunannya, atau
yang kugunjingkan kejelekannya, atau
yang kusengsarakan karena hawa nafsu, penghinaan, kesombongan, riya dan kesukuan,
yang hadir dan yang raib, yang hidup dan yang mati
Lalu lemah tanganku, sempit tenagaku, untuk mengembalikan haknya, dan meminta kerelaannya,
Karena itu, aku mohonkan padaMu,
Wahai Yang Menguasai Segala Hajat
Hajat yang terpanggil karena kehendakNya
Hajat yang bergegas memenuhi iradatNya
Sampaikan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
Ridhakan dia padaku dengan apa yang Kau kehendaki
Berikan padaku dari sisi-Mu rakhmat
Ampunan tidak akan mengurangi (keagungan)Mu,
Anugerah tidak akan meyusutkan (kebesaran)Mu,
Wahai Yang Maha Kasih dari segala yang mengasihi
Ya Allah, berilah aku pada hari Senin ini dua kenikmatan:
Pada permulaannya: kebahagiaan menaatiMu,
Pada pamungkasnya: kenikmatan akan ampunanMu,
Wahai Dia Yang menjadi satu-satunya Tuhan. Selain Dia tiada yang dapat memberikan ampunan …
Wednesday, January 28, 2009
Farewell

Sambil berkelakar saya katakan kepada BU (Budi Utomo), "Mas Budi ini mengawali karier Unpad di Miyazaki dan mengakhirinya di Miyazaki". Rupanya Mas BU yang melankolis ini agak keberatan dengan "celetukan" saya itu, kata dia, "Yaaa.... jangan disebutkan berakhir doong paakkk". Maksud Den Mas BU tentu adalah agar pertemanan ini jangan berhenti hanya karena kami tidak lagi bekerja di di tempat yang sama.
Kami telah mengarungi perjalanan yang cukup panjang, dimana di dalamnya suka-duka, onak-duri, tawa, canda, haru, iri, curiga, marah, rindu, kecewa, bangga, semangat bercampur aduk menghiasi mozaik pertemanan kami. Masing-masing kami pernah punya episode khusus dalam serial film persahabatan kami, walau memang untuk kisah mellow mas BU sering menjadi pemeran utamanya. Kadang-kadang Om Dadan, hari lain kisah nakalnya Om Piet, begitulah cerita berganti hari demi hari.
Seperti klub sepakbola, "turn over" "pemain" pun terjadi dalam "band" kami ini, ada yang datang ada pula yang pergi. Seperti pemain sepakbola profesional, kadang-kadang kepergian salah seorang dibumbui kisah sedih, namun kedatangan yang lainnya menghapus lara itu.
Mulanya kami terbata, tertatih menghadapi "kejutan-kejutan" yang terjadi diantara kami, tapi akhirnya kita harus belajar bahwa semuanya memang sudah harus begitu adanya, ada yang datang dan ada yang pergi. Rasa sakit, kecewa, marah, gembira, suka hanyalah konstruksi pikiran kami, bila kami mengkonstruksi bahwa kehilangan itu adalah rasa kecewa, marah, maka jadilah kami kecewa, marah. namun bila kami menyikaapi kehilangan sebagai sesuatu yang positif, maka tidak ada luka dan kecewa berkepanjangan, yang tersisa hanyalah kenangan manis.
Setiap individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri, jangan sampai kita menggantungkan nasib kepada orang lain, sukses-gagal, bahagia-sedih yang kita alami jangan kita nisbatkan sebabnya kepada orang lain, jadikan semuanya hanya karena hal itu pilihan kita.
Bukit dago utara di senja hari, seperti biasa akan sepi. Meski tiada lagi ringkikan tawa BU yang khas, cengengesan Om aang yang penuh wajah innocent, suara detak keypad handphone Om Galih yang sedang kirim sms, akan tetap begitu. Berkurang keceriaan tentu, tapi seperti yang pernah kita lalui dan hadapi sebelumnya, kepergian temen2 tidak akan dan tidak boleh mengurangi semangat kami berkarya.
Buat Om BuduT, Om Galih dan Om aang, saya kutipkan lirik Iwan Fals itu,
Pernah kita sama-sama susah
Terperangkap di dingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Di gilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah . . . . . lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai sa'at kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah . . . . . . . kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara . . .
Di hati . . . . . .
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga sa'at kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat...
Sunday, August 03, 2008
Satu Pulau - Dua Negara


Selang satu minggu setelah kunjungan saya ke Kalimantan Selatan, saya berkesempatan mengunjungi wilayah paling uatara dari Pulau Kalimantan alias Borneo, tepatnya saya mengunjungi negeri Sabah, Malaysia yang beribukota di Kota Kinabalu.
Seperti kunjungan saya yang lampau ke Sarawak, kunjungan ke Sabah juga memperlihatkan kepada saya bagaimana dua wilayah yang secara geografis terletak pada pulau yang sama tetapi secara penataan kota, kemakmuran warga, kedisplinan, kebersihan, dan aspek lainnya jauh berbeda.
Sabah dengan luas wilayah 73.620 km persegi dan jumlah penduduk kurang lebih 4 juta jiwa (setara dengan jumlah penduduk kota Bandung) adalah negeri yang memiliki tata ruang yang apik-solid, bersih, warga yang sejahtera keadaannya jauh berbeda dengan provinsi-provinsi yang ada di kalimantan, termasuk Kalimantan Timur sekalipun.
Kunjungan wisatawan asing (mereka sebut pelancong) jauh lebih ramai daripada di wilayah Kalimantan-Indonesia. Ini bukan karena potensi wisata di Sabah lebih menarik daripada di Indonesia, memang ada gunung Kinabalu, tapi panorama Tangkuban Parahu pun boleh dikatakan lebih mempesona.
Hutan ?!! ini dia !! hutan di sana memang lebih terjaga, lebih lestari. Sejak tahun 80-an pemerintah Kerajaan Malaysia melarang penebangan kayu di Borneo, meskipun memang mereka para cukong kayu Malaysia akhirnya malah memotong kayu di wilayah Kalimantan-Indonesia. Tapi inti persoalannya adalah penegakkan hukum.
Yang paling membuat saya iri adalah saat saya mengunjungi UMS (Universitas Malaysia Sabah), meskipun baru berdiri tahun 1994, sarana, fasilitas yang dimilikinya jauh lebih lengkap daripada Unpad yang telah berdiri sejak tahun 1950 (seperti tertera pada sablonan kaos cendera mata Unpad di Kopma).
Universitas-universitas negeri di Malaysia tidak seperti universitas2 negeri di Indonesia, karena semua universitas negeri di sana memiliki manajemen terpusat, dengan demikian tak heran apabila para dosen di universitas negeri Malaysia dapat mengalami masa transfer dari satu univ ke univ lainnya, seperti pemain sepakbola profesional. Soal uang kuliah, di UMS lebih murah daripada di Indonesia.
Nah, suatu saat saya ingin kembali mengunjungi negeri ini lebih lanjut.
Tuesday, July 22, 2008
Haydar & Hafy
Dua orang buah hati kami beranjak besar, Haydar sang kakak mulai sekolah di kelas A TK, kamai memilih sekolah yang terletak di sekitar rumah kami di dalam kompleks perumahan rumah kami, jaraknya dari rumah kami tak lebih dari 50 meter, jadi kami tak dipusingkan dengan langganan antar-jemput sekolah. Adapun Hafy sang adik mulai menunjukkan pesonanya bagi kami orangtuanya, senyum dan derai tawanya membuat semua perjalanan keluar rumah terasa lama, karena saya selalu rindu untuk menemui Hafy dan tentu saja Haydar yang tetap mempesona kami orangtuanya meskipun sudah tumbuh besar.
Hari-hari pertama, saya harus menunggu di dalam kelas, karena Haydar masih, entah malu, takut atau entah kurang PD bila ditinggal sendirian, padahal seperti sudah saya sampaikan sekolah Haydar bukan tempat yang asing, TK itu adalah bagian dari kompleks Masjid Al-Bayan, tempat saya dan Haydar biasa menunaikan shalat Jumat. Demikian pula Bu Guru, teman2 Haydar relatif sebagian sudah kami kenal. Tapi ia masih belum PD ditinggal sendirian, hingga hari ketiga ini, tapi ada kemajuan untuk hari ini karena saya bisa meninggalkan haydar setengah jalan masa sekolahnya karena harus mengajar di kelas Semester Pendek saya di Dago.
Tadinya saya agak berpikir, sedikit cemas dan gusar. Bagaimana bisa anak saya yang demikian PD (percaya diri) bila berada di lingkungan rumah atau saat bermain, tapi menjadi pemalu, kurang PD di sekolah. Lalu saya mulai membanding-bandingkan dengan pengalaman masa kecil saya, ahhhh tentu ini tidak fair ya ??
Meskipun seperti halnya Haydar, saya bukan anak yang "nakal" atau "pembuat onar" dan cenderung ikut aturan, tetapi saya lebih PD, saya senang maju ke depan, saya bersemangat bila harus terlibat dalam kegiatan kelas, setidaknya itu yang saya ingat ---atau saya lupa kali ya ?? hehehe----
Tetapi saya yakin setiap anak lahir berbeda, ia mewarisi sebagian gen saya dan gen isteri saya, jadi dia bukanlah saya atau isteri saya. Saya kini tidak menuntut materi pelajaran di TK yang cenderung lebih mirip materi pelajaran Play Group seperti yang pernah Haydar ikuti dahulu di sebuah sekolah yang cenderung "lebih serius" --boleh dibaca: lebih mahal bayarannya--- bagi saya saat ini yang terpenting ia dapat bersosialisasi, mengeri ada orang lain, menghargai perbedaan, mempertahankan hak, dan menyadari bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi karena dalam kelompok ada orang lain yang juga punya hak yang mungkin bertentangan dengan keinginannya. Buat saya hingga usia SD tugas Haydar hanyalah bermain...
Bilapun ia harus mengikuti kurus melukis, bermain musik maka itu hanya karena ia menginginkannya. Bila ia belum gemar matematika maka saya akan menunggunya hingga ia memasuki usia SD. Saya menyadari bahwa masa kecil adalah masa yang indah, saya tidak ingin merenggutnya dari anak-anak kami.
Hafy,
Dia semakin membuat kami rindu rumah, semoga ia makin sehat tumbuh kuat sehat cerdas dan memiliki hati yang mulia.
I Love you "H&H".
Papa & mama
Wednesday, May 14, 2008
Kuliah Metode Penelitian: Teknik Sampling
Mohon memberikan komentar terhadap perkuliahan dan materi ini.
Terimakasih,
WSS
Saturday, May 03, 2008
Kalimantan Selatan

Selama 7 hari sejak tanggal 27 April 2008, saya bersama tim Pra Surlap SESKOAD Pasis Dikreg 46 TA 2008, melakukan kunjungan ke beberapa teman di kalimantan Selatan. Berikut ini beberapa cuplikan perjalanan kami.
Kami mendarat di Banjarmasin, dan singgah di ruang VIP TNI AU, karena bersama komandan SESKOAD kami jadinya di jamu dengan menyenangkan.
Kota yang tidak pernah terlewatkan oleh pendatang adalah Martapura, ya kota intan. Dulu sewaktu saya sekolah SD, kami selalu mengingat nama-nama kota di Indonesia dengan produk andalannya.
Kota paling ujung adalah tanjung Tabalong, di sana kami mengunjungi tambang batu bara yang dikelola oleh PT Adaro.
Di Amuntai kami makan "belibis goreng" dan "bebek Alabio".
Terakhir kami jalan-jalan di Pasar Terapung dan tentu saja mencicipi Soto Banjar.
Bulan Juli kami kembali lagi Ke Kaltim.
My Sons

Akhirnya, kami mendapatkan momongan baru. Putera kedua kami, lahir pada tanggal 02-04-2008 pukul 14.00 di RSIA Hermina Bandung. Putera kami lahir dengan BB 3,67 kg dan tinggi 50 cm.
Tidak seperti kelahiran si sulung, kelahiran putera kedua kami penuh dengan warna kecemasan. Pertama, rencana proses kelahiran normal batal terlaksana, karena dokter menyarankan istedri saya menjalani operasi sesar. Kedua, selang 2 hari putera kami disarankan untuk mendapatkan penyinaran dan transfusi darah, karena alasan faktor "ABO" sehingga Hb-nya rendah akibat hemolisis yang nantinya menumpukkan bilirubin.
Namun syurkur alhamdulillah, putera kami kini sehat tumbuh dengan baik. O, ya mengingat jadwal kelahirannya di luar perkiraan kami, rencananya sekitar tanggal 7 s/d 14 April 2008, kami belum mempunyai nama yang fixed saat itu, baru setelah selesai menjalani perawatan penyinaran & transfusi, kami memberikan nama buat putera kami tersebut.
Kami memberinya nama Hafy Alrazi Sumadinata. Hafy dalam bahasa Arab artinya dermawan, kami berharap kelak ia menjadi manusia yang dermawan, menolong sesama manusia. Alrazi kami ambil dari nama seorang tokoh kedokteran muslim, selain Ibnu Sina (Avessina), tadinya saya mau meberikan nama Avicenna atau Averrous, namun ibunya kurang sreg, katanya biar seperti kakanya, nama tengahnya pake "Al-Al", kakaknya memeiliki nama tengah Alfarabi. Sumadinata adalah nama fam keluarga saya.
Kami berharap dapat menjadi orangtua yang mampu mengantarkan anak-anak kami tumbuh dewasa, mandiri dan menyadari jatidirinya selaku manusia. Semoga Tuhan senantiasa memberikan kami kesehatan, kesejahteraan jiwa, rizki yang cukup dan halal dalam membimbing putera-putera kami.
Mohon doa restu.
Widya & Dian
Monday, March 03, 2008
Count Down
Persoalannya adalah di anggaran persalinan ha ha haa.... harus kami akui bahwa persalinan cesar menuntut kami untuk menyisihkan sebagian tabungaan kami. Meskipun sebagian besar biaya persalinan ditanggung kantor isteri saya, tetapi kami tetap harus menambah kekurangannya. Tetapi selain biaya, faktor lain yang menjadi hirauan saya adalah resiko operasi. Pertama bagi isteri saya selaku ibu yang melahirkan, tentunya ia akan lebih lama "menderita" rasa sakit pasca operasi. yang kedua adalah anak saya, banyak teori, mitos atau segala cerita tentang anak yang dilahirkan melalui operasi cesar. Tetapi yang paling nyata adalah bahwa sang bayi tentu tidak akan mendapatkan kesempatan pertama memeluk ibunya, meneteki kolostrum sebagai makanan terbaik bagi sang bayi, mengingat pastilah isteri saya masih dalam pengarauh obat anestesi.
Beberapa waktu lalu, kita diingatkan oleh peneliti dari IPB tentang terdapatnya sejumlah mikro organisme --bakteri ?-- tertentu yang terdapat dalam susu formula. Kemudian temuan ini menjadi polemik hingga hari ini. lalu saya bertanya bagaimanakah anak kedua kami nantinya, apabila RSIA tempat isteri saya bersalin kelak ternyata tidak pro-ASI. Waaah bisa berabe nantinya.
Tetapi saya yakin, bahwa TUhan telah mengatur semua kehidupan secara lengkap. Maksud saya, selalu ada jalan diantara setiap permasalahan hidup manusia, semuanya tidak sepasti aritmetika. Betapa tidak, Indonesia adalah negeri yang dikuasai oleh para pemimpin yang korup, pengusaha yang rakus dan bermental serigala, ditambah lagi sistem internasional yang didominasi oleh AS, sehari-hari kedelai sulit di dapat, sekarang daging sapi juga sulit diperoleh, tetapi kita masih bisa hidup (atau sebagian dari kita mungkin sudah menggelandang dan makan tiwul atau nasi aking ?), tetapi itu.... nasi aking, tiwul, gaplek adalah solusi bagi kehidupan, sehingga kita benar-benar dipanggil sang Khalik.
Maksud saya, insya Allah anak kami pun akan tumbuh sehat, sejahtera lahir dan mental spiritualnya, meskipun ASI dan susu formula sulit didapat.
wassalam,
Tuesday, January 01, 2008
Perjalanan Kalteng

Wah, lama juga tidak nulis di blog, karena kesulitan akses internet selama saya di Kalteng maka banyak hal yang luput saya lakukan. Pertama dan yang terpenting, mengirimkan ucapan selamat buat sahabat sekaligus kakak seperguruan saya Ibu Jaziar Radianty yang menikah tanggal 23 Desember ybl, padahal saya sudah janji akan menjadi suporter utama akad nikah beliau. Tapi selamat ya Teh. Ntar cerita-cerita ya ?!
Ini dia sekelumit gambar perjalanan jadi pollster di Kalimantan Tengah khususnya di kabupaten Sukamara.
Nah yang di atas gambaran betapa saya ketar-ketir karena kelangkaan BBM di kalimantan, padahal perjalanan dari Palangkaraya ke Pangkalan Bun saja menempuh jalan darat dengan waktu kr-lbh 10 jam. Yang di bawah ini gaambar suasana perjalanan selama dari Palangkaraya ke Pangkalan Bun.
Tuesday, November 27, 2007
Persib
Sudah berapa kali strategi ditempuh, mulai dari mendatangkan pelatih asing, pemain asing, atau pemain lokal berharga mahal, tetapi prestasi menggembirakan tak kunjung tiba. Bahkan sore ini, ketika kemenangan dituntut diraih tim ini, di stadion Siliwangi kandang mereka sendiri, tim ini takluk dari Sriwijaya FC.
Saya kira mengeluarkan biaya besar bersumber dari APBD untuk keperluan tim seperti yang selama ini ditempuh memang tidak signifikan dengan raihan prestasi. Untuk itu lebih baik Persib menggunakan dana non APBD, walaupun kecil tetapi tujuannya untuk pembinaan pemain muda.
Gampangnya begini, akui saja bahwa memang Persib sulit untuk meraih juara, tapi Persib punya kesempatan mengembangkan bakat-bakat muda, untuk berprestasi "lumayan", tetapi tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Daripada mereka terlibat genk motor, mendingan mereka aktif bersepakbola. Sediakan lapangan-lapangan yang cukup untuk berlatih, buat kompetisi intern yang baik, biarkan hasilnya sesuai dengan kenyataan.
Bravo sepakbola
Sunday, November 25, 2007
Memilih dan Titipan Allah
Hari Sabtu yang baru lalu, saya memeriksakan kandungan isteri saya ke dokter kami di salahsatu RSIA di kawasan Pasteur. karena sudah memasuki bulan ke-5, maka kami akan segera dapat mengetahui prediksi dari jenis kelamin sang calon bayi kami, atau anak kedua kami.
Karena kami sudah memiliki satu jagoan, Haydar ---yang fotonya sering nampang di blog ini-- amat wajar bila kami bermohon untuk mendapatkan bayi perempuan. Namun hasil pengamatan USG menunjukkan bahwa sang adik, ternyata laki-laki. Alhamdulillah, dia kelihatan sehat.
Kecewakah kami ? Subhanallah, amat picik dan kejinya bila kami kecewa atas karunia ini, meskipun tadinya berharap mendapatkan bayi perempuan, kami tetap amat berbahagia, karena setiap anak, apapun jenis kelaminnya adalah manusia yang punya kesempatan menjadi manusia yang berakhlak mulia.
Hikmahnya, kami bisa berhemat untuk baju bayi, mainan bayi, dan saya menjadi rebutan dua jagoan saya untuk bermain, di sela-sela rutinitas kerja saya, Thank God.
Kita sering mendengar atau berujar bahwa anak-anak ataupun semua yang --seolah-olah-- yang kita miliki, pada dasarnya adalah "hanya" titipan Tuhan. Kita tak berhak merasa memiliki secara mutlak anak-anak kita, sehingga kita berhak menentukan mau seperti apa anak kita sebagaimana keinginan kita.
Mari kita lihat mengapa alasan saya dulu menginginkan anak perempuan, ahhhh ternyata semuanya bermula pada egoisme saya semata, bahkan kehadiran anak-anak pun hanya sekedar memenuhi keinginan dan ego saya, bukan sebagai amanah yang dititipkan Tuhan kepada saya.
Waktu itu saya berpikir, bahwa kalau kita punya anak perempuan maka ---seperti tradisi kita di timur, baca:indonesia atau sunda--- ia akan dekat dengan kita, walaupun mereka kelak berkeluarga. Begini jelasnya, bila hari Lebaran tiba, maka sebuah keluarga berkecenderungan tinggal di keluarga sang isteri ---setidaknya ini tradisi di kami, orang Sunda--- , anak-anak laki akan tinggal lebih lama di rumah mertuanya dibanding rumah bapaak/ibunya. Ha ha.ha ha.. terlalu sederhana ya contoh saya ?!!
Tapi intinya adalah betapa sebenarnya saya lebih mementingkan diri sendiri, egois. Seorang anak lahir semata demi memenuhi keinginan sang oraang tua, apakah alasannya sesederhana seperti alasan saya, atau mungkin demi menjaga warisan kerajaan bisnis keluarga, pokoknya demi "kebahagiaan" orang tua. Lalu dimana letak keinginan dan hak sang anak ?
Bukankah ia adalah semata titipan Tuhan, yang tidak lain jalan kita untuk memperoleh ridla-NYa ? Bukankah mestinya saya menerima kehadiran anak tanpa reserve ?!!
Saya ingin merenungi lagi puisi Gibran berikut:
Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
Thursday, November 08, 2007
HaydaR

Sudah, 4 hari ini saya tidur lebih larut, saya harus memenuhi permintaan Haydar menemaninya bermain, setelah seharian saya tidak berada di sisinya. Banyak saja alasannya agar kami tidak segera beranjak ke tempat tidur, mulai mengajak main "mobil-mobilan" lah, maen game lah, makan malam lah, maen perang-perangan lah, pokoknya apapun yang bisa membuat kami berdua bisa lebih lama bermain bersama.
Tidak apa-apa, meski lelah karena pagi2 harus siap2 pergi pelatihan lagi, hingga tgl 14 nanti, tapi saya bahagia.
Saya jadi ingat lagu Iwan fals, "Nak"
Begini cuplikan liriknya,
"Jauh jalan yang harus kau tempuh
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Tajam kerikil setiap saat menunggu
Engkau lewat dengan kaki yang tak bersepatu
Duduk sini Nak dekat pada bapak
Jangan kau ganggu ibumu
Turunlah lekas dari pangkuannya
Engkau lelaki kelak sendiri "
Monday, November 05, 2007
Indeks Governance
Dalam kajian-kajian pemerintahan yang bersifat institusionalisme atau kelembagaan, pemerintah dimaknai sebagai institusi atau lembaga sedangkan pemerintahan adalah kerja pemerintah. Inilah yang dimaknai sebagai konsep government. Dalam arti luas, government diartikan sebagai lembaga-lembaga yang bertanggung jawab membuat keputusan kolektif bagi masyarakat, sementara dalam arti sempit, government adalah pejabat politik paling tinggi dalam lembaga-lembaga itu, yaitu presiden, perdana menteri, dan menteri[1]. Pemahaman tentang pemerintah dalam konsep ini menempatkan pemerintah sebagai aktor dominan bahkan aktor utama dalam penyelenggaraan pemerintahan. Keputusan kolektif dalam masyarakat dibuat sendiri oleh seorang pimpinan, misalnya presiden atau kepala daerah, atau oleh satu kelompok (misalnya kabinet). Peranan masyarakat terbatas sebagai kelompok sasaran dalam pelaksanaan kebijakan, bahkan partisipasi masyarakat dimaknai secara sempit hanya sebagai formalitas dalam mendukung legitimasi kebijakan yang dibuat pemerintah.
Secara umum, istilah government lebih mudah dipahami sebagai pemerintah yaitu lembaga beserta aparaturnya yang mempunyai tanggung jawab untuk mengurus negara dan menjalankan kehendak rakyat, kecenderungannya lebih tertuju pada lembaga eksekutif atau kepresidenan (executive heavy)[2]. Selanjutnya ditegaskan bahwa wacana mengenai government lebih mengarah pada meminimalkan peran negara dan mempromosikan peran sektor swasta atau limitation of the state’s roles[3]. Terdapat pula diskusi mengenai reformasi aparatur negara (civilservice reform) namun hal ini tidak lebih dari bagian agenda ekonomi untuk penyesuaian struktural (structural adjustment).
Wacana government adalah fenomena yang berkembang pada abad 20 di mana negara memegang hegemoni kekuasaan atas rakyat[4]. Ketika negara (pemerintah) memegang hegemoni maka tertib sosial cenderung ditegakkan secara hierarkhis dan birokratis, dan kurang mengandalkan pada mekanisme spontan yang dapat berlangsung dari dalam masyarakat, oleh kekuatan yang ada pada masyarakat itu sendiri.
Kegagalan konsep sentralisasi menyebabkan terjadinya pergeseran paradigma pemerintahan yang semula menekankan pada institusi pemerintah (government) menjadi governance, yakni suatu konsep yang memandang pemerintahan sebagai suatu proses yang tidak lagi bersifat intra bureaucratic anality (perspektif yang melihat aktivitas dan kekuasaan pemerintahan di dalam dirinya sendiri). Kinerja pemerintahan harus dilihat dari interaksi dan relasi antara berbagai faktor dan aktor di luar birokrasi.
Konsep governance dimunculkan sebagai alternatif model dan metode governing (proses pemerintahan) yang lebih mengandalkan pada pelibatan seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, semi pemerintah, atau non pemerintah, seperti lembaga bisnis, LSM, komunitas, atau lembaga. Dengan cara pandang itu, sekat-sekat formalitas negara atau pemerintah menjadi terabaikan.
Konsep governance melihat kegiatan, proses atau kualitas memerintah, bukan tentang struktur pemerintahan, tetapi kebijakan yang dibuat dan efektivitas penerapan kebijakan itu[5]. Kebijakan bukan dibuat oleh seorang pemimpin atau satu kelompok tertentu melainkan muncul dari proses konsultasi antara berbagai pihak yang terkena oleh kebijakan itu. Dalam konsep ini, pemerintah bukan satu-satunya aktor dan tidak selalu menjadi pelopor dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sebagai fungsi pengelolaan masyarakat yang kompleks, governance melibatkan relasi antara berbagai kekuatan dalam negara, yakni pemerintah (state), civil society, economic society, dan political society.
Pengukuran mengenai indeks tata kelola pemerintahan, khususnya yang berbasis governance sudah mulai dilakukan sejak tahun 1998 melalui indeks yang disusun oleh Jeff Huther dan Anwar Shah. Namun, selain indeks tersebut, sebenarnya ada sejumlah pendekatan yang dapat digunakan untuk menyusun indeks pemerintahan berbasis governance. Secara umum, berbagai pendekatan tersebut membangun indikator-indikator governance dengan berlandaskan pada konsep governance yang mensyaratkan adanya partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan penegakan hukum (rule of law).
Secara khusus, pengukuran Indeks Governance juga pernah dilakukan di
Berbeda dari model-model sebelumnya yang melakukan pengukuran indeks governance untuk tingkat pemerintah pusat (nasional), GDS melakukan pengukuran indeks governance untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota dalam kaitannya dengan pelaksanaan desentralisasi. Dengan berpatokan pada perbedaan ruang lingkup ini, maka dalam menyusun Indeks Pemerintahan untuk diterapkan di Provinsi Jawa Barat, indikator/tolok ukur yang disusun harus disesuaikan dengan konteks kewenangan pemerintah daerah. Hal ini dilakukan agar dalam pengukurannya tidak terjadi bias mengingat ada indikator yang kurang tepat diterapkan di level daerah, seperti indikator kapasitas bank sentral yang hanya dapat diterapkan di level nasional.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Indeks Pemerintahan berbasis governance yang akan diuji terapkan dalam evaluasi tata kelola pemerintahan di Provinsi Jawa Barat tersusun dari indikator-indikator sebagai berikut:
1. Citizen participation (partisipasi warga) à partisipasi warga, dengan tolok ukur:
a. Kebebasan politik : mengukur kemampuan warga untuk mempengaruhi kualitas tata pemerintahan yang mereka peroleh.
b. Stabilitas politik : mengukur kemampuan warga untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan.
2. Government orientation (orientasi pemerintah) à keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan warga masyarakat, terutama dalam kinerja pelayanan publik (penyediaan barang dan jasa publik), dengan tolok ukur:
a. Efisiensi yudisial/penegakan hukum
b. Efisiensi birokrasi
c. Tingkat korupsi.
3. Social development (pembangunan sosial) à tolok ukur:
a. Indeks Pembangunan Manusia
b. Distribusi pendapatan
4. Economic management (pengelolaan ekonomi) à kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola perekonomian diukur melalui indikator kinerja yang mencakup kebijakan fiskal; kebijakan moneter; dan kebijakan perdagangan.
Tolok ukur:
a. Tingkat investasi.
b. Kapasitas fiskal daerah.
[1] Mochtar Mas’oed. “Desentralisasi dan Good Governance”. Dalam Good Governance : Untuk Daulat Siapa ?. Edy Soehardono.
[2] Satish Chandra Mishra. The Economic and Politics of Good Governance : Notes Towards an Anatomy. Makalah.
[3] Mishra. Loc.Cit.
[4] Baca lebih lanjut dalam Francis Fukuyama. The Great Discruption : Human Nature and the Reconstruction of Social Order.
[5] Mas’oed, op.cit., hal. 19.
Hujan
Kasihan haydar, waktunya bersama bapaknya kembali tersita. Saya berharap dapat membalasnyaa dengan sesuatu yang akan membahagiakannya.
Baik nak, tunggu papa ya.
Friday, November 02, 2007
Linearitas dan Ilmu Sosial
Perdebatan mengenai penggunaan pendekatan kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial sudah amat lama dan cukup lengkap, kita bisa telusuri jejak perdebatan tersebut dalam berbagai literatur baik itu dalam textbooks ataupun di dunia maya. Jadi kalaupun saya membicarakannya di sini tentu hal ini bukanlah hal yang baru, namun saya hanya ingin berbagi bagaimana dampak perdebatan tersebut dalam keseharian saya mengajar matakuliah tersebut dan dalam proses penelitian-penelitian di departemen tempat saya mengajar.
Penggunaan metode kuantitatif dalam proses penelitian (skripsi) di tempat kami sangat jarang dilakukan oleh mahasiswa yang sedang meneliti. Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, pertama karena ada asumsi bahwa dalam penelitian studi Hubungan Internasional adalah mustahil menggunakan metode kuantitatif mengingat paradigma metode kuantitatif yang merujuk pada pendekatan positivisme tidak tepat diterapkan (Kritik terhadap positivisme juga dapat kita telusuri dari berbagai literatur). Jadi, "so what gito loch ??!!", seloroh para mahasiswa saya dan sebagian para kolega kami di jurusan, menyikapi fenomena tersebut.
Kemungkinan kedua adalah ketidakmampuan para mahasiswa, hal ini tidak terlepas dari kemampuan para dosen mentransfer ilmu dan dalam penguasaan metode kuantitatif. Jadi metode penggunaan kuantitatif dihindari karena ketidakmampuan atas penguasaan metode tersebut ketimbang atas alasan filosofis-paradigmatis.
Bila kita merujuk pada kemungkinan yang kedua, artinya kita melihat bahwa penggunaan metode kuantitatif dalam studi Hubungan Internasional adalah memungkinkan, hal ini bertolak belakang dengan pandangan sebelumnya yang mengganggap secara filosofis maupun metodologis pendekatan kuantitatif tidak sesuai bagi riset studi Hubungan Internasional.
Salah satu asumsi yang menjadi topik perdebatan adalah aspek "liniearitas" objek kaji dalam studi Hubungan Internasional. Kita menyadari bahwa sebagian besar fenomena sosial berpilaku nonlinear, sehingga apabila metode-metode kuantitatif hanya menggunakan asumsi linearitas dalam tools metodologinya, maka hasil kajian bisa menjadi bias. Contohnya begini, apakah setiap penambahan jumlah senjata nuklir, akan dapat memprediksikan secara linear kondisi konflik internasional ? Agak sulit memang meyakini asumsi linearitas dalam kasus ini.
Tetapi perkembangan ilmu pengetahuan dan metode penelitian kuantitatif kini semakin maju, faktor-faktor nonlinear kini mulai diperhitungkan dalam analisis kuantitatif, sehingga bias yang terjadi menbjadi berkurang ? Kita tidak bisa berharap bahwa tidak ada bias atau error dalam perumusan dan komputasi formal, bahkan bukankah dalam hidup bias senantiasa kita alami ?
Jadi, persoalannya adalah bagaimana pendekatan kuantitatif menjadi semakin lebih maju dan mengurangi bias akibat adanya faktor nonlinear yang ada.
